Roti Go : Madre-nya Purwokerto ..

Dee pernah memukau saya lewat salah satu karyanya, Madre. Kisah yang unik, mengenai sepotong biang adonan roti yang mengubah jalan hidup tokoh utamanya, Tansen. Sekilas tidak ada yang istimewa dari seonggok biang adonan roti tersebut, kecuali setelah saya mengetahui bahwa ia telah berusia ratusan tahun, merupakan warisan berharga keluarga Tan dan menjadi latar belakang nama besar sebuah toko kue Tan de Baker ..

Ya, Madre lah nama biang adonan roti itu, yang membuat kue-kue Tan de Baker mempunyai citarasa luar biasa ..

Roti_Go_Purwokerto_1
Meski terpukau pada ceritanya, saya menganggap Madre hanyalah dongeng. Sekedar buah kata dari tangan Dee Lestari saja. Mustahil ada di dunia nyata. Sampai ketika pada suatu hari saya, Mba Yusmei dan Farida menghabiskan salah satu senja Ramadhan di Purwokerto. Bermula dari celetukan iseng Pungky, tuan rumah yang menjamu kami dengan sangat baik,

Ada toko kue legendaris di Purwokerto lho, Mba. Umurnya udah 100 tahun lebih, katanya .. “.

Dasar penggila sejarah! Mendengarnya, kami merengek minta segera diantar ke toko kue yang berjuluk Roti Go. Pungky pun mengarahkan motornya menuju Jl. Jend. Sudirman No. 326/724, lokasi toko kue tersebut. Setelah beberapa kali menyasar, ah, Mamah Muda ini seperti anak rumahan saja, akhirnya kami menemukan plang Roti Go. Pantas agak susah ditemukan, lha letaknya bersebelahan dengan toko-toko non makanan, tanpa petunjuk lain yang mencolok ..

Memasukinya, seperti kembali ke masa lalu. Begitulah tampilan toko kue yang saya jumpai pada saat kecil dulu. Etalase kaca sederhana memuat beraneka macam kue dan pastry. Aroma harum roti yang sedang dipanggang menyeruak ke dalam indera penciuman saya. Hmmm ..

Roti_Go_Purwokerto_4

Sembari memilih roti yang akan dibawa pulang ke penginapan, saya dan teman-teman berbincang dengan seorang Engkoh berusia jelang senja. Beliau adalah suami dari Rosani Wiogo, pewaris Roti Go generasi ketiga. Sayang sekali, saat kami berkunjung, Rosani sedang melawat ke Singapura. Menurut Si Engkoh, toko kue yang tersohor di Purwokerto ini sudah ada sejak tahun 1898. Benar, umurnya sudah lebih dari 100 tahun. Wow! Bahkan beberapa pegiat kuliner mengatakan bahwa Roti Go merupakan toko kue paling tua di Indonesia, lho ..

Roti_Go_Purwokerto_3

Keluarga Wiogo bertekad selalu menjaga keaslian citarasa kue dan pastry yang mereka jual, dengan cara menggunakan bahan-bahan alami saat membuatnya, seperti telur sebagai bahan pengembang, kendal sapi untuk lapisan renyah pastry dan tanpa pengawet. Tidak heran, tekstur rotinya lembut dan empuk. Belum lagi rasanya, beuh, pasti enak ..

Nah, di sela-sela semangat kami menyimak sejarah Roti Go, tiba-tiba Si Engkoh menyebut tentang penggunaan biang adonan roti sebagai salah satu rahasia sukses bisnis keluarganya tersebut. Saya terperangah,

Serius, Koh, Roti Go pake biang ? “.

Pria setengah baya berambut putih itu mengangguk, sambil terkekeh ..

Astaga, berarti Madre yang selama ini saya percaya hanya ada dalam lembar-lembar karya Dee, benar-benar nyata! Luar biasa! Saya tidak bertanya lebih lanjut mengenai biang adonan roti milik Keluarga Wiogo. Rikuh, sepertinya Si Engkoh tidak berkenan membahasnya lebih lanjut. Namanya juga rahasia. Hehehe ..

Roti_Go_Purwokerto_2

Tak apa, sebab tak lama kami diijinkan untuk mengintip dapur Roti Go. Meski sebentar, saya sempat menyaksikan tungku tradisional yang sampai sekarang masih digunakan untuk memanggang roti. Selain itu, sebuah wadah super besar untuk mengaduk adonan juga ada disana. Bukan digerakkan dengan mesin, lho, melainkan tenaga manusia, diaduk manual oleh tangan. Walah ..

Saya dan teman-teman mengakhiri kunjungan di Roti Go dengan membungkus beberapa potong kue dan pastry-nya. Favorit saya roti sukade. Duh, penampilannya memang biasa saja, tapi rasanya, Masya Allah, nikmat sekali. Harganya pun bersahabat, di bawah 10K IDR semua. Pembuka puasa yang sempurna. Jadi, tidak berlebihan bukan, jika saya menyebut Roti Go sebagai perwujudan Madre di dunia nyata? Di Purwokerto, tepatnya .. 😉

***

18 thoughts on “Roti Go : Madre-nya Purwokerto ..

  • September 19, 2015 at 15:12
    Permalink

    Toko roti kuno namun masih bertahan sampai sekarang. Saingan mereka sdh tak ada kali ya Mbak Noer. Purwokerto jadi punya cerita unik dengan Toko Roti Go :)

    Reply
    • September 19, 2015 at 21:05
      Permalink

      Betul, Mba Evi, sudah susah mencari toko roti yang totally masih menggunakan bahan-bahan alami. Apalagi mempertahankan biang adonan. Jarang banget sepertinya. Hihihi .. 😀

      Reply
  • Pingback: Roti Go : Madre-nya Purwokerto ..

  • September 21, 2015 at 08:09
    Permalink

    duuhh aku luwe pagi2 baca iniiii :(
    aku juga suka toko2 roti jadul gini dibanding toko roti kekinian di mall yang rotinya mimpes gak ngenyangin kecuali makan 5 bijik *buang dompet*

    Reply
    • September 21, 2015 at 12:45
      Permalink

      Bahahahaha .. Roti yang di mall mahal, Kak .. 😀

      Roti-roti jadul emang jenisnya itu-itu aja ya, Dit. Ngga ada inovasi rasa atau topping. Paling kalahnya di situ aja sih dibanding roti kekinian, kalo rasa mah boleh diadu lah yaaa .. 😀

      Reply
  • September 21, 2015 at 10:03
    Permalink

    Aku penasaran rasa rotinya, roti-roti jaman biyen kan terkenal atos atos eheheh,,, apa yang ini enak banget gitu ya mbak?
    Biang iki opo seh? fermipan? ragi? ato opo mbak?

    Reply
    • September 21, 2015 at 12:54
      Permalink

      Enak, Lid, seriusan. Empuk, lembut gitu, trus ga tau deh, ada aroma harum pas kita ngunyah. Beneraann .. 😀

      Iya, biang adonan roti itu semacam ragi, kalo ngga salah. Hahaha. Semakin lama usia biang, yang setiap habis dipakai, ditambahin adonan lagi, semakin bikin enak roti. Kayanya gitu, Lid .. 😀

      Reply
  • October 2, 2015 at 16:47
    Permalink

    Ngobrol sama Si Engkoh seperti terlempar ke masa lalu..trus jadi pengin makan Roti Go. Kau kudu piyeee? 😀

    Reply
  • October 16, 2015 at 09:59
    Permalink

    yg namanya toko roti meskipun usianya udah puluhan taun tetep dicari orang ya

    Reply
    • October 16, 2015 at 11:23
      Permalink

      Iyaaa, apalagi yang rasanya wuenaakk gini. Hehehe .. 😀

      Reply
  • October 22, 2015 at 21:39
    Permalink

    ya amppuuunnnnn knpa aku baru tauuuu… pas ke purwokerto trakhir ga ada samasekali singgah k toko roti ini.. akupun paling suka ama novel dee yg madre itu mba.. terpesona gitu bacanya.. awalnya jg ga prcaya lah… kirain cm novel.. di jkt sndiri ya, ada toko kue yg udah uzur walo blm setua roti Go ini… suisse bakery..itu juga fav ku…. rotinya itu jelek, ga terlihat enak, tp pas dicoba beuuuhhhh, aku lgs jilat smua prasangka barusan ^o^… Kamu coba deh kalo ke Jakarta

    kalo pas ke purwokerto, aku jg mau mampir ke roti Go ini.secara ya kita sekeluarga pecinta roti :)

    Reply
    • October 23, 2015 at 04:45
      Permalink

      Wah, ada juga ya di Jakarta? Mau dong, kapan-kapan nyobain. Hihihi .. Aku juga agak-agak kaget sih, Fan, kok ternyata ada beneran sih, toko kue macam di novel Dee itu. Dan iya loh, ternyata roti-rotinya enak bingits. Ya ampuuunn .. 😀

      Reply
  • October 25, 2015 at 21:08
    Permalink

    waaaah, roti enak nih kayaknya, perlu dicoba
    kapan-kapan kalau ke purwokerto harus mampir nih

    Reply
  • Pingback: Toko Roti Pertama di Indonesia Ada di Purwokerto – Jayanjayan.com

  • June 13, 2016 at 11:14
    Permalink

    boleh neh kapan pulang ke Pwt mampir ke sini..

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: