Warna-warni Transportasi Thailand ..

Setelah terbang selama kurang lebih 3 jam, pesawat yang saya tumpangi mulai melintas angkasa Bangkok. Dari ruang kendali, Sang Pilot mengumumkan hal tersebut. Saya menajamkan pandangan ke bawah, langit mulai gelap, sementara Bangkok terlihat berkerlip genit. Dari atas, kota metropolitan itu terlihat mewah, namun tidak demikian saat saya menyaksikannya langsung. Sesaat setelah landing, saya, Mba Lia dan Farida, dijemput Sumay, bergegas keluar dari area bandara dan mencari cara menuju kota. Seketika itu saya gegar, ternyata Bangkok sama ruwetnya dengan Jakarta. Ouch!

transportasi_thai_1

Namun percayalah, setiap destinasi selalu punya kejutan bagi para pejalan. Demikian pula Thailand. Meski terlalu awal mengejutkan saya dengan keriuhan ibu kotanya, ia lalu menyuguhkan banyak hal manis. Salah satunya adalah moda transportasi yang dimiliki Negeri Gajah Putih ini. Selain beragam dan unik, saya pun menyimpulkan bahwa Thailand cerdik menyediakan aneka macam moda transportasi umumnya. Mulai dari yang konvensional hingga yang kekinian, semua ada ..

Ini dia .. πŸ˜‰

Taksi Meter

Yak, saya memang bukan traveler yang terlalu ketat memperlakukan prinsip budgeting. Taksi meter atau taksi argo, bagi sebagian pejalan termasuk pilihan kendaraan umum yang dihindari. Kami, saya, Mba Lia dan Farida, tidak. Kondisi saat itu, baru saja landing, sudah malam, belum tune in dengan keramaian Bangkok, membuat kami memutuskan untuk menyewa taksi ini dari Don Mueang sampai Silom ..

transportasi_thai_7

Sekilas pandang, taksi-taksi di Bangkok tidak sebagus di Indonesia. Beberapa di antaranya, bahkan, menggunakan jenis sedan lama. Pengalaman pertama kami berkendara dengan taksi meter di Bangkok, saat itu, tidak terkendala apa-apa, selain uncle driver-nya tidak bisa Bahasa Inggris. Terpaksa menggunakan isyarat dan menuliskan nama hostel tujuan di selembar kertas, alhamdulillah, kami sampai dengan selamat. Yeay!

Mengenai harga, jujur, saya sedikit tercengang. Murah! Menempuh jarak kurang lebih 20-an km, argo hanya menunjukkan angka 200 THB atau sekitar 60K IDR. Jadi, jangan ragu untuk menjajal taksi meter di Thailand, ya ..

Kereta Rel Diesel (KRD)

Entah apa sebutannya di Thailand, yang jelas kereta api rute Bangkok – Ayutthaya yang saya tumpangi ini mirip sekali dengan KRD di Jakarta. Non AC, bangku sederhana berhadap-hadapan, serta penjual makanan lalu lalang ..

page_transportasi_thai_1

Berawal dari kebingungan kami di Hua Lampong. Stasiun besar itu sungguh membuat kami,Β khususnya saya, hampir putus asa. Pikiran kami terbelah, antara keharusan mengisi perut yang belum terisi sejak pagi, sementara kedai makanan halal tidak kami temukan; kewajiban menukar tiket sleeper train rute Ayutthaya – Chiang Mai, namun agen perjalanan belum buka; dan waktu keberangkatan KRD menuju Ayutthaya yang semakin dekat. Belum lagi seluruh penanda peron dan peringatan keberangkatan disampaikan dalam Bahasa Thailand.Β Ora mudeng. Syukur, sekali lagi, dan masih akan berkali-kali lagi, Tuhan bersama para pejalan. Semua urusan kami lancar ..

Berkereta menuju Ayutthaya, membuat saya melihat sisi sederhana warga Bangkok dan sekitarnya. Duduk di depan saya, seorang bapak tua, yang bercerita dengan Bahasa Inggris ala kadarnya, bahwa dia pernah bekerja di Arab Saudi. Sebab itulah dia tidak heran melihat saya dan teman-teman menggunakan hijab. Lalu, di bangku seberang ada seorang ibu muda dengan 2 anaknya, yang tak henti berceloteh entah apa dan merengek minta jajan ketika tukang asinan lewat di sisi mereka. Hahaha ..

Mau tahu berapa harga tiket KRD rute Bangkok – Ayutthaya yang harus kami bayar per orang? Hanya 15 THB, tidak sampai 5K IDR, dengan jarak tempuh kurang lebih 60 km. Murah sekali, bukan? πŸ˜‰

Sleeper Train

Banyak sekali catatan perjalanan yang menyarankan pembacanya untuk mencoba sleeper train di Thailand. Kabarnya inilah kereta malam terbaik seantero ASEAN. Penasaran dong. Atas nama “pengalaman”, saya, Mba Lia dan Farida pun sepakat untuk menempuh jalur kereta yang jauh lebih lama dibanding bis, apalagi pesawat, saat menuju Chiang Mai, dari Ayutthaya ..

page_transportasi_thai_2_2

Sleeper train yang kami tumpangi ini berangkat dari Hua Lampong, Bangkok sekitar pukul 6 sore. Posisi sudah di Ayutthaya, sehingga kami menunggu saja di sana. Kurang lebih jelang pukul 8 malam, kereta malam itu merapat di bekas ibu kota Thailand yang kaya dengan kuil-kuilnya ..

Bergegas kami masuk ke gerbong yang tertera dalam lembaran tiket putih beraksara hijau. Wow! Gerbong itu berisi tempat tidur bertingkat, dengan penutup tirai berwarna biru terang. Beberapa di antaranya masih berbentuk kursi, itu pasti milik kami. Ya, sleeper train ini memang berwujud deret-deret kursi, yang dapat bermetamorfosis menjadi tempat tidur bertingkat yang nyaman. Ajaib, ya! Saya pun berpikir demikian ..

transportasi_thai_2

Kami bertiga membeli tiket lower berth, seharga 1300 THB atau hampir 400K IDR. Mahal sih, memang, namun worth it untuk dicoba. Kasur dan bantalnya empuk, selimutnya hangat, privasi pun terjaga. Untuk urusan “belakang”, jangan khawatir, tiap gerbong menyediakan kamar mandi yang bersih dan luas. Aman ..

Satu tips lagi, bangun pagi lah. Lalu, buka gorden. Pemandangan di sisi kanan kiri rel sungguh menawan. Seriously .. πŸ˜‰

Tuktuk

Inilah moda transportasi khas Thailand yang masih eksis hingga sekarang. Tuktuk sering disebut juga auto rickshaw, memiliki 3 roda dan tempat duduk penumpang berjajar menghadap depan. Beberapa kali menumpanginya, saya mengamati bahwa Tuktuk di Bangkok lebih berwarna-warni dibandingkan dengan yang di Chiang Mai ..

transportasi_thai_4

Seninya naik Tuktuk baru terasa ketika mendapatkan driver yang ugal-ugalan, seperti saat saya, Mba Lia dan Farida pulang dari Chiang Mai night market & bazaar. Hahaha. Perjuangan dimulai ketika menawar tarif, kekeuh saling mempertahankan keinginan dengan bahasa isyarat. Kami tidak paham Bahasa Thailand, sopir Tuktuk menyerah dengan Bahasa Inggris yang kami gunakan. Perfect! Setelah deal pun, ternyata kami masih harus menerima kejutan bahwa ternyata Sang Pengemudi muda belia itu terobsesi menjadi pembalap F1. Ngebutnya minta ampun. Luar biasa! *pegangan kencang*

Untuk tarif, Tuktuk paling juara murahnya. Berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman, sekali jalan paling mahal hanya 80 THB atau sekitar 24K IDR ..

(Bukan) Taksi Meter

Moda transportasi selanjutnya yang saya coba di Thailand adalah (Bukan) Taksi Meter. Hahaha. Sebut saja Angkot lah, atau Opelet. Kendaraan umum ini menggunakan mobil bermoncong depan, buatan lawas, sementara bagian penumpangnya disusun berhadap-hadapan menyamping. Di Ayutthaya, Opelet ini tampak tua, catnya mengelupas di beberapa bagian. Namun tidak di Chiang Mai, mereka terlihat cantik dengan warna merah menyala, full aksesori pula. Seru!

IMG_1121

transportasi_thai_3

Dua kali menumpang Opelet ini, seluruhnya kami lakukan dengan cara mencarter. Pertama ketika temple hopping di Ayutthaya, kedua saatΒ city tour di Chiang Mai. Ya, kami memilih mem-booking seharian, dengan alasan malas melakukan negosiasi berulang kali, menggunakan bahasa isyarat pula. Duh. Tidak terlalu mahal, kok, 900 THB saja, dapat bonus kenalan driver ramah dan petunjuk tempat makan halal pula. Yeay, alhamdulillah .. πŸ˜‰

Perahu Ekspres dan Perahu Kanal

Alih-alih Tuktuk, saya lebih terkesan pada moda transportasi air yang berseliweran di Bangkok. Lepas mengunjungi Chiang Mai, kami kembali ke Bangkok dan menginap di Ramkamhaeng, sebuah daerah di Timur Bangkok. Agak jauh dari pusat kota, memang, namun di sana kami mudah menemukan kedai-kedai makanan halal. Nah, salah satu solusi transportasi dari Ramkamhaeng ini adalah perahu ekspres dan perahu kanal ..

page_transportasi_thai_3_2

Bangkok merupakan kota yang terbelah sungai, serta kanal. Sungai utama di sana adalah Chao Praya, sementara di sekitarnya banyak terdapat sodetan berupa saluran buatan. Airnya sama sekali tidak bersih, bahkan bau, namun Bangkok percaya diri sekali memanfaatkan aliran airnya itu. Pertama kali mencobanya, sumpah, saya deg-degan. Bagaimana tidak, saya harus melompat dari dermaga mungil menuju perahu yang telah berkapasitas penuh. Jeda berhentinya pun tidak lama. Tidak lucu, bukan, jika saya atau teman-teman saya harus tercebur di sungai berair cokelat tersebut. Hahaha .. πŸ˜€

Sekedar intermezzo, saya membayangkan jika Pemerintah Kota Semarang sama percaya dirinya dengan government Bangkok. Bisa jadi Kali Semarang yang membelah kota dapat dimanfaatkan menjadi jalur transportasi baru. Bukan hanya memenuhi kebutuhan perpindahan warga, namun juga sekaligus promosi wisata Kompleks Kota Lama. Cool! Ah, seandainya ..

Oh ya, tarif perahu terbilang murah meriah, misal dari Ramkamhaeng sampai Dusit, kami hanya harus membayar 15 THB saja ..

Bus, Skytrain dan MRT/Subway

transportasi_thai_6

Last but not least, inilah 3 jenis moda transportasi Thailand yang sempat kami coba. Mainstream, sih, ketiganya dapat dengan mudah dijumpai di Singapura atau Malaysia. Saya dan teman-teman tidak terlalu sering menggunakan bus, skytrain, maupun MRT/subway, masing-masing hanya sekali saja ..

transportasi_thai_5

Fasilitas bus di Bangkok cukup unik, semacam perpaduan modern dan konvensional. Armada bus yang saat itu kami tumpangi lumayan bagus, full AC, namun untuk menarik ongkos, seorang kondektur masih dipekerjakan. Tanda bukti pembayarannya pun menggunakan potongan kertas kecil yang digulung di atas sebuah tabung. Entahlah, setidaknya itu yang tertangkap oleh mata saya. Sementara skytrain dan MRT/subway tidak ada yang istimewa, sih. Tarifnya mahal, jadi tidak terlalu menarik perhatian saya. Hehehe. Moda transportasi tersebut hanya berbeda letak jalur relnya saja, skytrain di atas jalan raya, sementara MRT/subway ada di bawah tanah ..

***

Ah, memang, petualangan berperjalanan di Thailand dapat dirasakan dengan menjajal satu demi satu moda transportasinya. Berwarna-warni. Ada yang menegangkan, ada yang harus berkutat dengan rumitnya perbedaan bahasa, ada yang membuat kalkulator di kepala terus menghitung sebab ongkos mahalnya, atau justru tertegun karena tarif yang diminta begitu ringan. Let’s try! Thailand,Β dan warna-warni transportasinya, memanggil, Guys .. πŸ˜‰

***

32 thoughts on “Warna-warni Transportasi Thailand ..

  • September 21, 2015 at 23:44
    Permalink

    Setuju klo sleeper train di Thailand juara, klo urusan mahal masih lebih mahal kereta di Indonesia. Kelas bisnis sama eksekutif yg mahalnya minta ampun tapi cuma tempat duduk saja.

    Mbak Z kok ndablek featured imagenya jangan dikasih tulisan2 gitu ah

    Reply
    • September 22, 2015 at 20:11
      Permalink

      Beruntung aku pernah nyobain sleeper train yang juara itu. Tidur nyenyak deh beneran, kalo ngga dibangunin sama petugas, mungkin aku masih njingkrung di balik selimut. Hihihi .. πŸ˜€

      Heyaampuunn, aku dibilang ndablek. Beklaahh, ini lagi mau diperbaiki. Hahaha .. πŸ˜€

      Reply
    • September 22, 2015 at 20:12
      Permalink

      Seru banget, Mba Noni. Aku belum PD sih kalo jalan sendirian, solo traveling gitu. Suka mati gaya .. :)

      Reply
  • September 23, 2015 at 00:21
    Permalink

    Aku pengen coba sleeper train! Ada fasilitas pijat juga gak? #lah

    Reply
    • September 23, 2015 at 13:37
      Permalink

      Gih cobain, Bang! *tabur convetti*

      Pijat? Nggg, aku bisa mijat sih. Bahahahaha .. πŸ˜€

      Reply
  • September 28, 2015 at 11:46
    Permalink

    Banyak ya pilihan moda transportasinya. Sepur buat rakyat murah pisan, 60 km cuma bayar kurang 5k. Ini namanya beneran subsidi. Beda dengan sepur Indonesia yang harga tiketnya mencekik. Taksi meter dan angkotnya juga lumayan murah.

    Reply
    • September 29, 2015 at 06:26
      Permalink

      Iya, Kakak, murah-murah bingits ya, moda transportasi di Thailand. Bikin ketagihan pengin nyoba-nyoba lagi. Hahaha. Terima kasih sudah berkunjung, jangan bosen yaaa .. πŸ˜€

      Reply
  • October 18, 2015 at 08:31
    Permalink

    transportasinya mirip-mirip sama yang ada di Indonesia ya mbak

    Reply
    • October 18, 2015 at 13:42
      Permalink

      Iya, Kak, kecuali perahu kali ya. Di Jawa masih jarang memanfaatkan moda transportasi air sungai .. :)

      Terima kasih sudah berkunjung, salam kenal ..

      Reply
  • October 19, 2015 at 10:20
    Permalink

    walau bangkok ruwet, tetapi disana jarang yang bunyikan klakson ya kak πŸ˜€

    duh jadi kangen bangkok

    Reply
    • October 19, 2015 at 16:00
      Permalink

      Eh iya ya, baru ngeh ih, ngga ada suara klakson tan tin tun di Bangkok. Hihihi ..
      Yuks, ke Thailand lagi, Kak, barengan .. πŸ˜€

      Reply
  • October 19, 2015 at 12:07
    Permalink

    murah banget disana, saking murahnya, hari2 enakan naik taksi waktu kerja disana. waktu itu dibawain motor juga, bensin dsana relatif lebih murah, jalanan lumayan lebar, bebas ngebut, jarang ada musuhnya πŸ˜€

    Reply
    • October 19, 2015 at 16:13
      Permalink

      Wah, kesannya hedon bener ya, Kak, kerja naik taksi. Tapi emang murah sih, nyenengin. Beneran kangen atmosfer Thailand deh ini jadinya. Hehehehe .. πŸ˜€

      Reply
  • October 22, 2015 at 07:42
    Permalink

    waahh bikin iri nih mba, kapan bisa diajak main-main kesini yaa… :(

    Reply
    • October 22, 2015 at 15:51
      Permalink

      Hayuks semangat nabung, Kak, biar cepet kesampean ke Thailand. Hihihi .. πŸ˜€

      Reply
  • October 23, 2015 at 08:35
    Permalink

    Separah-parahnya Bangkok & Jakarta, kalo kata teman sih parahan di Negara Vietnam hahhahah, tapi keren banget itu transportasinya, dari yang model unik, biasa, sampai yang luar biasa πŸ˜€

    Reply
    • October 23, 2015 at 10:43
      Permalink

      Hahahaha, Vietnam memang parah ya, Kak. Suka ajaib sendiri liatnya, pas di Hanoi. Parah .. πŸ˜€

      Reply
  • October 25, 2015 at 07:06
    Permalink

    aaahhh keren banget ini. awal bulan kemaren padahal ada tiket murah ke thailand. tapi malah ragu2 mau berangkat :(

    Reply
    • October 27, 2015 at 12:45
      Permalink

      Hayooo, kenapa ragu-ragu, Kak. Mantapkan hati, dunia menunggumu .. πŸ˜‰

      Reply
    • November 1, 2015 at 16:54
      Permalink

      Banget, Kak, tidurku nyenyak itu. Kalo ngga dibangunin petugas, bisa-bisa bangunnya pas kereta udah sampe Chiang Mai deh. Hahahaha .. πŸ˜€

      Reply
      • November 6, 2015 at 14:21
        Permalink

        Nah kan πŸ˜€ wkkwkw udah kayak rumah berjalan banget wkwkwk πŸ˜€ iiih itu kenapa harus dibangunin sih kamu mbak πŸ˜€

        Reply
        • November 9, 2015 at 11:29
          Permalink

          Lah, kalo ngga dibangunin, bisa kebawa lagi sampe Bangkok dong, Kak. Hahahaha .. πŸ˜€

          Reply
            • November 11, 2015 at 12:19
              Permalink

              Kalo kebawa sampe Bangkok lagi ya batal jalan-jalan namanya, Kak .. πŸ˜€

              Reply
  • November 4, 2016 at 20:34
    Permalink

    Transportasi di Thailan unik dan terpelihara. Semoga transportasi di setiap daerah di Indonesia bisa seperti itu.

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: