Sehari di Kota Pahlawan ..

Bagi saya yang berdomisili di Semarang, Surabaya adalah destinasi yang pas untuk bepergian di akhir pekan. Weekend getaway. Dengan menggunakan moda transportasi kereta, jarak antara 2 ibukota provinsi tersebut hanya butuh ditempuh dalam waktu 4 jam saja. Cukup singkat, bukan? Lebih cocok lagi, meski Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia, tingkat kemacetannya tidak separah Jakarta. Wira-wiri di dalam kota masih terasa nyaman, tidak banyak waktu yang terbuang di jalanan. Ditambah lagi, kota ampuan Ibu Risma ini punya banyak ruang hijau yang meneduhkan. Menyenangkan ..

Nah, jika punya waktu seharian di Surabaya, sebaiknya ngapain saja sih?

Kecuali nge-mall, tentu saja, saya rekomendasikan beberapa hal menarik yang bisa kalian lakukan di Kota Pahlawan ini .. 😉

Makan Sate Klopo Ondomohen Ibu Asih

surabaya_3

Warung sederhananya terletak di Jl. Walikota Mustajab No. 36. Meski sekilas terlihat biasa saja, spot kuliner ini sering disebut sebagai salah satu signature dish-nya Kota Surabaya. Benar saja, tempat makan yang berselimut asap bakaran daging ini selalu dipenuhi pengunjung. Saat mengunjunginya, saya sempat menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya mendapat tempat duduk. Ondomohen sendiri diambil dari nama gang tempat Asih Sudarmi berjualan sate klopo untuk pertama kalinya, yaitu pada tahun 1985. Meski kini telah berpindah ke lokasi yang lebih strategis, citarasa Sate Klopo Ondomohen tidak berubah sedikit pun. Tetap yummy ..

surabaya_4

Saya memesan 10 tusuk sate sapi. Untuk pendampingnya, tempat makan legendaris ini menyediakan nasi atau lontong. Silahkan pilih. Tidak lama, sebuah piring berisi sate sapi berwarna kuning kecokelatan, matang sempurna, disiram bumbu kacang pekat, sedikit kecap dan irisan bawang merah serta cabe rawit, tersaji.

surabaya_1

Apa beda sate ini dengan sate-sate lainnya?

Sebelum menyantap, saya memperhatikannya sebentar. Oh, ternyata bulir-bulir halus parutan kelapa ditabur di permukaan daging, ikut dibakar juga. Alhasil, setelah matang, sate klopo bertekstur agak kasar. Bumbu kacangnya pun tidak terlalu manis, tidak seperti di Jawa Tengah atau Yogyakarta. Perpaduan daging sapi berbalut parutan kelapa dan bumbu kacang itulah yang menjadikan sate klopo berbeda dan istimewa. Rasa gurih menguar kuat di indera perasa. Syukaaa ..

Sempatkan untuk mampir ke Sate Klopo Ondomohen Ibu Asih, saat mengunjungi Surabaya. Warung tersebut buka sejak pagi, hingga tengah malam, jadi jangan khawatir kalau harus antri sebentar. Selamat menikmati .. 😉

Mengunjungi Masjid Cheng Ho

Jejak Laksamana Cheng Ho memang terasa begitu lekat di Bumi Nusantara ini, ya. Jika di Semarang, tempat singgahnya dijadikan kelenteng megah bernama Sam Po Kong, maka di Surabaya, justru berdiri sebuah masjid mungil yang sarat makna. Masjid tersebut berjuluk sama dengan Sang Laksamana, Cheng Ho ..

surabaya_5

Masjid ini berlokasi di Jl. Gading No. 2, Ketabang, menyatu dengan kompleks Pembina Imam Tauhid Islam (PITI), sebuah organisasi yang mewadahi umat Muslim Tionghoa di Surabaya. Meski tidak semata-mata berdiri di tanah bekas singgahan Sang Laksamana, masjid ini membawa semangat dan nilai kedamaian yang diajarkan oleh Beliau. Ornamen Tionghoa terasa kental lewat dominan warna merah dan kuning yang digunakan. Arsitekturnya pun, namun, tentunya, tidak mengabaikan nilai-nilai keislaman, seperti arah kiblat yang tepat, ukiran kaligrafi di seluruh penjuru dan lafaz Allah di kanopi depan masjid ..

surabaya_6

surabaya_2

Saya agak terkesima, saat memasuki area PITI. Sekelompok remaja asyik bermain basket, berlarian dengan riang. Sementara sekelompok lainnya duduk melingkar entah membahas apa. Beberapa di antaranya adalah para gadis keturunan Tionghoa, nan cantik, berkulit putih dan berkerudung. Saya sapa,

Assalamualaikum .. ”

Mereka pun menjawab dengan hangat,

Waalaikumsalam .. “.

Hawa Surabaya yang terik menyengat, siang itu, mendadak lenyap. Ada sejuk yang menyentuh hati ..

Menyaksikan Monumen Tugu Pahlawan

surabaya_10

Uhm, sebenarnya tidak hanya menyaksikan Monumen Tugu Pahlawan, sih. Sebab, ruang bawah tanah landmark kebanggaan Kota Surabaya tersebut difungsikan sebagai Museum 10 November yang menyimpan sejarah perjuangan era Bung Tomo. Berhubung datang kesiangan, jadilah saya hanya sempat melihat Tugu Pahlawan dari kejauhan. Itupun setelah sedikit merayu petugas agar mau membukakan pintu, barang 5 atau 10 menit. Alhamdulillah, rayuan saya cukup manjur .. 😀

surabaya_7

surabaya_8

Di sana, saya disambut oleh Soekarno – Hatta yang berdiri tegak menantang zaman. Pilar-pilar yang disusun sedemikian rupa mengelilingi mereka berdua, di sana mural pengobar semangat digoreskan dengan tinta merah. Di sana pula, Soekarno menitipkan pesan, bahwa bangsa besar adalah ia yang bisa menghargai pahlawan-pahlawannya. I couldn’t agree more. Dan, menurut saya, salah satu cara menghargai pahlawan adalah dengan meneruskan perjuangan mereka; tidak membiarkan peluh dan darah mereka tumpah sia-sia ..

Saya siap! Kalian bagaimana? 😉

***

Selamat Hari Pahlawan, Kalian,
yang berjuang lewat keahlian masing-masing;
yang menahan diri untuk tidak hanya merutuki negeri, namun berusaha memberi solusi;
yang rela berkorban untuk Bumi Nusantara, tanpa perlu diminta ..

17 thoughts on “Sehari di Kota Pahlawan ..

  • November 11, 2015 at 07:08
    Permalink

    Saya sdh beberapa kali ke Surabaya dan belum pernah mencicipi Sate Klopo. Sedihnya aku Mbak Noer..kurang eksplorasi hehehe…

    Reply
    • November 11, 2015 at 11:59
      Permalink

      Ayo diulangi lagi ke Surabayanya, Mba Evi. Trus langsung cusss ke Ondomohen. Slurrrppp .. 😀

      Reply
  • November 11, 2015 at 10:05
    Permalink

    Pas hari pahlawan ke kota pahlawan, kulineran lagi kan :3 nikmat mana lagi yang kamu dustakaaan 😀

    Reply
  • November 11, 2015 at 12:03
    Permalink

    sate klopoooo!!!
    kemarin aku bela-belain ke Buaran umpel-umpelan naik Comuter Line demi makan ini

    Reply
    • November 11, 2015 at 12:20
      Permalink

      Hahaha, trus gimana rasanya, Dit? Sama endeusss-nya dengan Ondomohen ngga? Misal sama pun, suasana di Surabaya ngga akan bisa disubstitusi sama Buaran ya, Cyint .. 😀

      Reply
  • Pingback: Sehari di Kota Pahlawan ..

  • November 12, 2015 at 08:19
    Permalink

    Jadi penasaran cicip Sate Klopo, btw ini aslinya kuliner dari mana ya, Zah? Ayo telusuri museum-museum keren di Surabaya, banyak yang menarik loh. Udah kutulis di blogku loh #malahpromosi 😛

    Reply
    • November 12, 2015 at 08:47
      Permalink

      Nah itu dia, Lim, kurang paham dari mana aslinya. Yang jelas, Ibu Asih adalah generasi kedua yang menjalankan usaha Sate Klopo Ondomohen ini. Mungkin resep warisan keluarga kali yaaa .. 😀

      Tentang museum di Surabaya, iya, belum kesampean pengin eksplor, Lim. Semoga segera ..

      Reply
  • November 12, 2015 at 14:09
    Permalink

    wah,,, kelihatanya asik ya pergi ke surabaya…

    seumur hidup sy belum pernah jalan2 ke surabaya, cma numpang lewat aja..

    baru tau di surabaya ada masid ceng ho

    Reply
    • November 12, 2015 at 15:50
      Permalink

      Domisili di mana, Kak? Kalo ngga terlalu jauh, coba deh akhir pekan gitu meluncur sebentar ke Surabaya. Asik kok kotanya, apa-apa ada. Misal nyasar pun masih gampang tanya-tanyanya. Hehehe .. 😀

      Reply
  • November 12, 2015 at 16:58
    Permalink

    Jadi penasaran sama ini, kak : “para gadis keturunan Tionghoa, nan cantik, berkulit putih dan berkerudung”

    Reply
    • November 12, 2015 at 20:55
      Permalink

      Iya, jadi ada sekelompok remaja gitu, beberapa di antaranya perempuan, berkerudung. Kebanyakan kan keturunan Tionghoa, mereka berkegiatan di sana, karena Masjid Cheng Ho ada di komplek PITI itu. Senang saja melihatnya .. :)

      Reply
  • December 6, 2015 at 21:37
    Permalink

    Wah, tadi aku lihat sate klopo ini di sorot stasiun TV,,, baca blog Mbak Nur ketemu sate kelapa lagi. Semakin membuat saya penasaran saja akan rasanya,,,,, Kapan – kapan kalau ke kota pahlawan harus masuk list ini

    Reply
    • December 6, 2015 at 21:47
      Permalink

      Beneran enak tau, Mbaaa .. Meskipun bersambal kacang, rasanya dominan gurih, bukan manis .. Pas banget sama potongan daging yang dibakar matang .. Slurppp .. 😀

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: