Cianjur feat. Bandung, 14-15 Januari 2012 ..

Sekitar awal Desember 2011 lalu, saya menemukan sebuah artikel internet yang membahas tentang keberadaan sebuah Situs Megalitikum di Kabupaten Cianjur. Gunung Padang, namanya. Hmm, asing, baru pertama kali itu saya mengetahuinya. Browsing kesana kemari, ternyata hasilnya cukup sukses membuat saya semakin penasaran ..

Saya harus sampai kesana !

Itu tekad saya. Sampai akhirnya saya memasang status di FB, tentang keinginan mengunjungi Situs Megalitikum Gunung Padang. Di luar dugaan, peminatnya bwanyaaakkk. Mencapai 24 orang, saat itu, meskipun akhirnya yang bertahan sampai hari yang disepakati hanya 9 orang saja. Jadi, tidak berlebihan, bukan, jika saya menyebut kesembilan orang rekan seperjalanan episode Cianjur feat. Bandung ini adalah hasil seleksi alam. Hehehe ..

Mereka adalah : Wuwu, Mba Eva, Emi, Uphie, Della, Sely, Sosro, Danang dan Nono ..

IMG_1768

Dan perjalanan pun dimulai ..

Saya berangkat dari Semarang menuju Bandung, Jumat, 13 Januari 2012, pukul 7 malam, via travel Cipaganti (Jalan Sultan Agung No. 92, Semarang, 024 7050 0000 atau 024 9128 8588). Agak apes, saya mendapatkan jatah mobil tambahan, plus sopir yang rese’-nya ampun-ampunan. Saya pun tidak berharap banyak, selain bisa selamat diantar sampai Terminal Leuwipanjang, Bandung. Itu saja !

Sabtu, 14 Januari 2012 ..

Menjelang pukul 6 pagi, sampai juga saya di depan Terminal Leuwipanjang, Bandung. Clingak clinguk parah, karena saya benar-benar buta dengan Kota Bandung. Sesekali saya menelepon Farchan, adik tingkat yang kebetulan kenyang wira-wiri di Ibukota Priangan ini, dia bersedia menemani saya sampai dapat bis menuju Cianjur. Saya dimintanya masuk ke dalam areal terminal dulu, sementara dia masih on the way dari kos ..

Farchan datang, sempat ngobrol, terutama untuk memastikan rute yang nanti harus saya tempuh untuk menuju Gunung Padang. Sebelum naik ke bis, saya butuh ganjal perut dan pilihan jatuh pada segelas sterofoam Pop Mie. Hehehe ..

Tidak lama kemudian, ketika jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi, saya pun naik ke bis jurusan Sukabumi, untuk nanti turun di Cianjur. Kebetulan saya beruntung naik MGI, judul perusahaan oto yang sama dengan yang saya tumpangi ketika hendak ke Ujung Genteng, Desember 2009 lalu. Kontak-kontak dengan rombongan Jakarta, mereka baru masuk kawasan Puncak, sementara rombongan Sukabumi baru akan melajukan kendaraan ke Cianjur. Sip ! Sesuai perkiraan waktu, jika tidak ada halangan, kami bersepuluh akan sampai di Terminal Pasir Hayam, Cianjur dalam waktu yang berdekatan ..

Sekitar 2 jam kemudian, sampailah saya di terminal utama milik Kota Cianjur. Ealaaahhh, ternyata saya yang pertama tiba, meski tidak lama Sely dan Nono pun muncul. Rombongan Jakarta masih tertahan di Cipanas, sambil menunggu, saya sarapan (lagi). Kali ini, bubur ayam. Hahaha ..

Setelah rombongan lengkap, kami memutuskan menyewa angkot saja untuk menuju ke Gunung Padang. Kenapa ? Pertama, karena kami berbanyak, jadi biaya carter tidak akan berbeda secara signifikan dengan biaya ngeteng. Kedua, karena waktu kami terbatas, pilihan ngeteng akan memperpanjang waktu naik turun dari angkot ke angkot. Ketiga, karena rute Kota Cianjur ke Gunung Padang bisa dibilang cukup jauh dan sulit, sementara tidak ada satupun dari kami yang paham seluk beluk Cianjur, apalagi daerah pelosoknya, jadi lebih baik pasrah sama sopir angkot lah. Hehehe ..

Petualangan kami bersepuluh menuju Gunung Padang dimulai dari Terminal Pasir Hayam ..

Angkot merah yang sudah butut, namun perkasa itu, membawa kami menyusuri Jalan Raya Cianjur – Sukabumi atau menuju daerah Warungkondang. Sempat mampir belanja logistik sebentar, sebelum akhirnya angkot sampai di pertigaan Warungkondang dan berbelok ke kiri. Jangan khawatir, papan penanda menuju Gunung Padang, lengkap dengan jaraknya, sudah terpampang jelas mulai dari pertigaan ini. Saya sumringah membaca papan penanda tersebut : Gunung Padang — 20 km, insya Allah kami berada di jalan yang benar. Hehehe ..

Ternyata, 20 km versi pertigaan Warungkondang – Gunung Padang adalah 20 km yang berat. Jarak sekian seharusnya hanya butuh waktu 30 menit untuk menempuhinya dengan kendaraan bermotor, tapi apa daya jalanan yang harus kami lalui untuk sampai ke Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, kondisinya cukup parah. Aspal berlubang di hampir seluruh permukaan jalan, ditambah lagi air sisa hujan bercampur dengan lumpur dan medan naik turun berkelok, membuat rute semakin sulit dilewati ..

Medan yang paling berat adalah ketika jarak Situs Megalitikum tinggal 5 km lagi, wilayah itu sudah masuk areal PTPN VII Panyairan. Kanan kiri jalan adalah kebun teh yang menghampar di punggungan bukit. Menakjubkan, namun ketakjuban kami terganggu oleh jalanan yang semakin kacau balau. Sudah bukan aspal lagi yang melapisi jalan, tapi sekedar batu kali yang disusun sedemikian rupa di atas tanah berlumpur. Terbayang bagaimana licinnya, terutama ketika hujan sedang turun. Waspada tingkat tinggi ..

Alhamdulillah, sopir angkot sewaan kami cukup lincah memainkan kemudi, hingga kurang lebih 2 jam kemudian, sampai juga kami di gerbang masuk Situs Megalitikum Gunung Padang. Kendaraan hanya bisa berhenti tidak jauh dari gerbang, selebihnya kami masih harus berjalan menanjak, tidak jauh, mungkin hanya sekitar 300 m. Tiba di pelataran tangga menuju Gunung Padang, kami istirahat sebentar. Makan siang, walaupun cuma makan mie instan (lagi), kemudian lanjut sholat Dhuhur ..

halaman1

Menjelang pukul 13.30, kebetulan gerimis sudah agak reda, kami segera beranjak naik ke tujuan utama : Situs Megalitikum Gunung Padang. Oleh warga sekitar, kami disarankan untuk naik melalui tangga buatan, yang dibangun dengan material beton dan memiliki pegangan di sisinya, bukan lewat tangga asli, yang tersusun dari batuan andesit yang diposisikan tidur. Alasannya sederhana, hujan baru saja turun, tangga asli menjadi sangat licin dan akan membahayakan pengunjung. Lagipula, tangga asli lebih curam, dibanding tangga buatan, meskipun anak tangga buatan jauh lebih banyak dibanding anak tangga asli. Ah, ini hanya tentang pilihan ..

halaman2

Lima belas menit mendaki hampir 500 anak tangga cukup membuat saya terengah-engah, dada terasa panas dan kaki mulai tegang. Sedikit memaksakan diri, hingga akhirnya saya, bersama 9 teman yang lain, sampai juga di Gunung Padang. Subhanallah .. Di hadapan saya terhampar pelataran Punden Berundak, di atasnya terbangun sebuah situs bermaterial batu andesit, basaltik dan basal berbentuk tiang-tiang sepanjang 1 hingga 2 meter. Masing-masing tiang memiliki banyak segi, meskipun pentagon *segi 5* menjadi yang dominan disini ..

Sayangnya, belum sempat mengeksplorasi situs lebih dalam, hujan turun lagi, plus angin super duper kencang. Saya sibuk menyelamatkan kamera, pikir saya, manusianya sakit bisa diobatin, lha kalau kameranya yang sakit, bisa nangis nih manusianya. Hehehe ..

Kami bersepuluh beringsut perlahan-lahan menuju saung yang berada di sisi kanan situs, berteduh. Sembari harap-harap cemas hujan segera reda, kami ngariung di saung tersebut, kemudian berpindah ke Menara Pandang yang letaknya bersebelahan dengan saung. Hmm, pemandangan yang terhampar benar-benar mengesankan : sebidang hasil karya manusia masa lalu, dikelilingi perbukitan hijau, menghadap tepat pada Gunung Gede, bertambah eksotis dengan rintik-rintik gerimis yang masih turun perlahan-lahan. Wow !

IMG_1789

Alhamdulillah, tidak lama hujan benar-benar reda. Saatnya eksplorasi !

Kami ditemani jurukunci situs, Beliau bernama Pak Nanang. Dari laki-laki setengah baya itulah, saya mendapatkan cerita singkat bahwa Gunung Padang merupakan bangunan masa lalu berjenis punden berundak dan memiliki 5 teras, yang berundak semakin ke atas. Pada teras 1, yang merupakan pelataran terluas, kami menjumpai gundukan kecil, Pak Nanang menyebutnya Bukit Masjid. Selain itu, di teras 1, terdapat Batu Musik, yang dapat mengeluarkan harmoni nada jika dipukul dengan kerikil. Selanjutnya di teras 2, terdapat Batu Kujang, sebuah batu dengan sebuah cerukan mirip senjata khas Sunda, yaitu Kujang. Di puncak teras 2 ini pula terdapat sebuah pohon besar, yang oleh masyarakat sekitar disebut Ki Menyan. Lanjut ke teras 3, disisi kiri teras ini terdapat Batu Tapak, yaitu sebuah batu yang di salah satu sudutnya tercetak seperti tapak harimau. Pak Nanang mengatakan, bahwa ada kepercayaan tapak tersebut adalah tapak Maung atau manusia sakti. Kemudian, yang paling seru adalah teras 4, dimana kami mendapati Batu Gendong, yaitu sebuah batu yang dipercaya jika seseorang mampu mengangkatnya, segala macam keinginannya dapat terwujud. Sekedar iseng mencoba, satu persatu dari kami susah payah mengangkat batu setinggi kurang dari setengah meter itu. Dapat ditebak, tidak ada yang berhasil. Hehehe .. Teras 5 atau teras terakhir, disana terdapat Batu Padaringan, yaitu sekelompok batu yang disusun sedemikian rupa dan digunakan sebagai tempat pertapaan ..

IMG_1811

Kedatangan kami ke Gunung Padang memang murni untuk eksplorasi, namun tidak sedikit pengunjung lain yang datang dengan tujuan berziarah. Saya sedikit heran, ternyata benar, Gunung Padang merupakan salah satu tempat bernuansa mistis di Bumi Pasundan. Datang bersamaan dengan kami, 2 orang pemuda berpenampilan modern dan berprofesi sebagai anggota band lokal. Ketika kami bersepuluh begitu ribut foto-foto berlatar situs, mereka berdua khusyuk bermeditasi dari satu teras ke teras lain. Sungguh, saya tidak habis pikir *melongo* ..

Puas eksplorasi, plus foto-foto di setiap sudut situs, menjelang pukul 4 sore kami turun. Hmm, sambil menuruni satu demi satu anak tangga, saya masih terbayang kehidupan hebat macam apa yang pernah terjadi di Gunung Padang, ribuan tahun lalu. Meskipun di mata manusia masa kini, situs ini hanya sekedar batuan abstrak yang berserakan, namun bagi manusia purba, arsitektur punden berundak yang menghadap Gunung Gede *arah hadap situs diterjemahkan bahwa pada jaman dahulu, Gunung Gede dianggap sebagai sosok perwujudan Sang Pencipta*, konon terletak tepat di tengah lintasan sabuk Galaksi Bimasakti, lengkap dengan fungsi masing-masing teras yang telah terdefinisi adalah hal yang LUAR BIASA ..

Sampai di bawah, kami sempatkan untuk sholat Ashar, baru kemudian kembali ke tempat angkot sewaan menunggu. Fiuhhh, akhirnya kami meninggalkan Gunung Padang, sebuah tempat yang menurut saya, berhasil memproyeksikan kemegahan masa lalu ..

Hujan kembali turun saat angkot mulai menjauhi gerbang masuk situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara itu. Namun kondisi gerimis tidak membuat kami mengurungkan niat untuk mampir sebentar ke Stasiun Lampegan, sebuah stasiun di jalur kereta api tertua di Indonesia : Bandung – Sukabumi – Bogor dan terletak di ketinggian 652 diatas permukaan laut. Jarak Gunung Padang ke Stasiun Lampegan tidak jauh, kurang lebih hanya sekitar 10 km saja. Jangan khawatir tersasar, karena letak stasiun searah dengan jalan pulang menuju Warungkondang, hanya saja, ketika menjumpai pertigaan, berbeloklah ke kiri, sementara arah Warungkondang adalah ke kanan. Tidak jauh dari stasiun, terdapat Terowongan Lampegan, yang dibangun pada rentang tahun 1879 – 1882 menembus bukit sepanjang 686 meter. Selepas tertimbun longsor pada tahun 2001 dan 2006, Terowongan Lampegan pun direnovasi pada tahun 2010 dan jalur kereta api tersebut dimaksudkan kembali diaktifkan, namun sampai kunjungan kami minggu lalu, rentangan rel masih menganggur ..

IMG_1833

IMG_1835

Tidak terlalu banyak yang bisa kami eksplorasi di stasiun, maupun terowongan Lampegan, karena hujan turun semakin deras. Kami hanya sempat foto-foto sebentar, berlatar 2 objek klasik tersebut. Oh ya, kami sempat sedikit masuk ke dalam terowongan, namun tidak lama dan tidak terlalu jauh dari mulut terowongan. Lembab, bau dan mengerikan. Hahaha ..

IMG_1853

Hari semakin gelap, mendekati Maghrib, kami pun segera meneruskan perjalanan pulang ke arah Kota Cianjur. Tidak jauh berbeda dengan saat berangkat, angkot sewaan bergejolak melawan jalanan yang rusak parah. Hanya saja, saat pulang, lebih banyak medan menurun daripada menaik. Lumayan ..

Sampai di Cianjur, Sely dan Nono turun di depan Hypermart, karena kendaraan mereka terparkir disana. Sementara kami berdelapan masih harus berjuang mendapatkan penginapan. Pencarian dimulai di tengah kota, menurut sopir angkot, ada penginapan bernama Joglo disana. Setelah dirunut-runut, waduuuhhh, parah sekali kondisinya ! No, no, no .. Lanjut ke Jalan By Pass, sedikit jauh dari pusat keramaian kota, tapi tak apalah, toh kami hanya ingin istirahat. Disana kami menemukan Hotel Leindel (Jalan Dr. Muwardi – By Pass, Cianjur), sempat sedikit berdebat dengan pengelola hotel, namun akhirnya disanalah kami membuka 3 kamar untuk numpang tidur malam itu ..

Sebelum benar-benar beristirahat, kami makan malam dulu di resto Ayam Taliwang, yang terletak tidak jauh dari Hotel Leindel. Entah benar-benar enak atau sekedar halusinasi saya yang kelaparan, menu Paket Nasi Timbel berlauk Ayam Taliwang itu terasa sangat nikmat. Hingga akhirnya sesampai di penginapan, tanpa ba-bi-bu lagi, saya langsung klipuk ..

Minggu, 15 Januari 2012 ..

Belum lepas dari pukul 7 pagi, ketika kami berdelapan check out dari penginapan. Tujuan kami sama, Terminal Pasir Hayam, namun tujuan selanjutnya berbeda : saya dan Wulan ke Bandung, sementara yang lainnya ke Jakarta, via Bogor. Ngeteng naik angkot rame-rame dan berpisah ketika angkutan L300 jurusan Bogor menghampiri keenam sahabat saya. Huhuhu .. See you next trip ya, Guys ..

Saya dan Wulan masih sempat mengganjal perut dengan gorengan dan segelas kopi di emperan terminal, sambil menunggu Bis MGI jurusan Sukabumi – Bandung, yang akhirnya tidak juga datang. Akhirnya kami berdua menyerah menunggu dan memutuskan naik Bis Sangkuriang yang terkenal lambreta di jalanan. Benar saja, sudah jalannya lemah lembut, pakai acara ganti ban, kena macet pula di Padalarang. Deuh .. Impian saya bisa eksploring Kawasan Braga dan nge-mall sebentar di Ciwalk kandas. Belum lagi, kebingungan lepas dari Terminal Leuwipanjang menuju Jalan Asia Afrika, membuat kepala saya cenat cenut. Tanya Farchan, bingung. Tanya Polisi, tambah tidak membantu. Tanya sopir angkot, dibohongi .. *nangis*

Meskipun akhirnya berhasil sampai di Braga, tidak banyak yang bisa saya dan Wulan lakukan kecuali numpang duduk di The Kiosk, Braga City Walk, untuk nge-brunch. Selanjutnya, seperti peserta The Amazing Race, kami berdua harus berlarian membopong ransel, menembus hujan, mencari taksi dan segera menuju ke kawasan Cihampelas, tempat shuttle X-Trans menuju Bintaro dan point penjemputan travel Cipaganti ..

Di Cihampelas itulah, saya dan Wulan berpisah. Saya menuju Semarang, Wulan menuju Jakarta. Huwaaa .. Berakhirlah trip saya episode Cianjur feat. Bandung ini. Sampai ketemu lain waktu dan thanks for this amazing journey, Pals *bighug* ..

***

Gono Gini

Biaya sendiri : 376K IDR

  • Travel Semarang – Bandung = 160K IDR
  • Makan malam = 5K IDR
  • Air mineral = 3K IDR
  • Sarapan Popmie = 5K IDR
  • Permen = 2K IDR
  • Bis Bandung – Cianjur = 15K IDR
  • Sarapan bubur ayam = 5K IDR
  • Travel Bandung – Semarang = 160K IDR
  • Makan malam = 21K IDR

Biaya berdua *dengan Wulan* : 143K IDR atau 71,5K IDR per orang

  • Cemal cemil = 10K IDR
  • Bis Cianjur – Bandung = 30K IDR
  • Angkot I = 8K IDR
  • Angkot II = 5K IDR
  • Makan siang = 70K IDR
  • Taksi = 20K IDR

Biaya bersepuluh : 1460K IDR atau 146K IDR per orang

  • Sewa angkot = 230K IDR
  • BBM angkot sewaan = 50K IDR
  • Belanja logistik = 80K IDR
  • Makan siang = 60K IDR
  • Kebersihan Gunung Padang = 10K IDR
  • Guide Gunung Padang = 20K IDR
  • Penginapan = 705K IDR
  • Makan malam 273K IDR
  • Angkot = 32K IDR

17 thoughts on “Cianjur feat. Bandung, 14-15 Januari 2012 ..

  1. perjalanan ke Bogor tidak kalah lamanya Zou, pake acara buka tutup jalan, alhasil jam 10.30 baru nyampe ke Gedung Dalam, tempat jualan asinan Bogor dan makanan khas Bogor lainnya. Kami mengalami penipuan juga, ditipu satpam yg bilang klo angkot yg melewati Gedung Dalam itu menuju Baranangsiang. Ternyata angkot yg kami tumpangi sesuai arahan Pak Satpam itu tidak melewati Baranangsiang.Alhasil kami diturunkan di pinggir jalan pas ujan deres pula. Ditunggu trip selanjutnya….

  2. @ sapar : Iya ih, sedih banget Sapar ngga jadi ikut, tapi terharu juga, abisnya ngga ikutnya demi bagusin rumah sih .. Hehehehehehe .. Kapan2 kita ngetrip bareng lagi ya, Par .. ;)

    @ emi : Huwaaa .. Jebul basah kuyupnya gara2 itu toh, Mi ?? Kirain emang niat jalan2, terus kehujanan .. Senasib dong kita .. Hehehehehe ..

    Iya, kapan2 jalan bareng lagi yaaa .. ;)

  3. Wah, perjalanan yang keren sekalee mbak, ini beberapa hari yang lalu baru saya lihat di kompas TV Borobudur.. saya pun ternyata juga baru tahu ada tempat gituan di Cianjur..
    eh, ternyata mbukak blog njenengan jebul ceritanya sudah muncul.. masih anget pula.. :p

    yang disayangkan kok makannya mie terus ya.. :D

  4. @ hamid : Makasih, Pak .. ;)

    Iya, berawal dari keimpulsifan saya menanggapi sesuatu, beginilah jadinya. Cuma baca artikel tentang Gunung Padang, langsung berambisi pengin kesana. Alhamdulillah punya banyak teman yang sehobi, jadi bisa langsung dieksekusi .. Hehehe ..

    Makan mie ?! Err .. Iya, yang penting kenyang aja sih .. ;)

  5. wah, ternyata mbak noerazhka berkunjung kesini hanya beda seminggu dari saya, saya ke Lampegan pada tanggal 22 Januari 2012. saya ke Lampegan ini sudah 2x lho…dan saya juga sudah ke Gunung Padang tahun lalu, bagus ini reportasenya,bikin ketagihan eksplorasi ke Lampegan lagi,mbak noerazhka :D

  6. @ badia : Yah, sayang sekali, beda pekan. Misal sama2, mungkin kita tukeran link blog disana. Hehehe .. ;)

    Terima kasih, saya sendiri masih mau ngulangin ke Gunung Padang. Mungkin menunggu cuaca agak bersahabat, kemaren kami sempet kena badai. Dinginnyaaa .. ;)

  7. @ badia : Siap ! Nanti saya maen2 deh ke ‘rumah’ Badia .. ;)

    Bener, kayanya sampe akhir Februari masih bakal hujan2an terus ya. Nanti deh, kapan2 harus sampe Gunung Padang lagi .. Hehehehe ..

    @ nahdhi : Sepengetahuan saya, gunung yang diduga piramida itu di Garut ya ? Belom pernah mencari tau tentang itu sih, Mas .. Tapi sepertinya sahabat saya, Dansapar [www.dansapar.com], pernah sedikit membahasnya .. Monggo berkunjung .. ;)

  8. saya mau tanya mba, kalo dari bandara jakarta ke sukabumi naik apa ya mba ya…
    atau bus dr bandung ke sukabumi, naik bus apa dan dari mana untuk mndptkan busnya ya mba??

    makasih mba… ^^,

  9. @ puspa : Bis dari Bandara Soe-Ta ke Sukabumi, saya ngga paham, belom pernah.. Bis dari Bandung – Sukabumi, please read my post carefully, saya sudah ceritakan super gamblang diatas.. Thanks sudah berkunjung..

  10. Pingback: Kaleidostrip 2012 .. - .. Berbagi Lewat Kata ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>