Indonesia Mengajar

Saya ini tipikal pecinta buku bergenre fiksi, jadi ketika ada non-fiksi yang berhasil menarik perhatian saya, pastilah buku itu istimewa. “Indonesia Mengajar, Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri” adalah salah satunya. Buku yang ditulis oleh para Pengajar Muda Angkatan I ini benar-benar menginspirasi. Sumpah !

2012-03-10 17.03.32

Sebenarnya apa sih Indonesia Mengajar itu ?

Indonesia Mengajar adalah sebuah gerakan yang diprakarsai oleh Anies Baswedan. Sejalan dengan namanya, Indonesia Mengajar memberikan ruang bagi generasi muda Indonesia untuk mengajar. Bukan sembarang mengajar, karena yang diajar adalah anak-anak didik usia SD di berbagai pelosok negeri, jauh dari peradaban metropolitan, bahkan untuk sekedar listrik dan sinyal selular pun penuh keterbatasan. Tujuan jangka panjang gerakan ini sungguh mulia : Mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Dasar ’45. Sampai saat ini, Indonesia Mengajar telah memberangkatkan 3 angkatan Pengajar Muda ke 16 Kabupaten lokasi penempatan, mulai Kab. Aceh Utara hingga Kab. Fak Fak ..

Hmm, Indonesia Mengajar yakin bahwa “Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi” ..

Nah, buku ini merupakan langkah tepat untuk mengabadikan kenangan semangat mengajar, meskipun para Pengajar Muda Angkatan I telah mengakhiri masa baktinya medio 2011 lalu. Buku setebal 322 halaman ini berisi coretan harian 51 Pengajar Muda Angkatan I, terbagi dalam beberapa bagian ..

Anak-Anak Didik Pengajar Muda

Pada bagian pertama ini, para Pengajar Muda menceritakan tentang anak-anak didik yang mereka temui selama mengajar. Ada Novi, Fatimah dan Risma yang mengirimkan surat cinta untuk Pak Guru Ridwan Wijaya (Pengajar Muda Passer), ada Nurlaini yang jenius sekaligus pemberontak dan ndableg, namun akhirnya dialah yang menjadi asisten Pak Guru Junarih (Pengajar Muda Halmahera Selatan) dan masih banyak lagi kisah inspirasi tentang bocah-bocah pedalaman, yang kadang dilupakan, meski mereka tetap lah bagian dari Nusantara ini ..

Memupuk Optimisme

Hmm, banyak cerita yang membuat saya menyusut air mata saat membaca bagian ini, terutama 2 cerita pertama. Pertama, Satriana Bertemu Wakil Presiden, yang ditulis oleh Sekar Arrum Nuswantari (Pengajar Muda Majene). Haru, ketika Satriana, bocah kelas 5 SDN 39 Manyamba, Kab. Majene, akhirnya bisa mewujudkan mimpinya bertemu Bp. Boediono, Wakil Presiden RI. Bu Guru Sekar tidak henti memberikan motivasi, bahwa siapa mau mencoba dan bersungguh-sungguh, maka dialah yang berhak berhasil. Subhanallah ..

Kedua, Membaca Indonesia Raya, ditulis oleh Erwin Puspaningtyas Irjayanti (Pengajar Muda Majene) di atas bukit tanpa nama di sudut Kab. Majene. Menohok ! Itu komentar saya atas tulisan 3 halaman ini. Bagaimana tidak, coba baca kutipannya ..

Dan, jika saat ini, besok atau esok dan esoknya lagi kau ingin mengeluh karena listrik padam, bersyukurlah karena itu hanya akan 1, 2, 3, 7, 8 atau 10 jam saja. Disini, listrik pun bahkan tidak ada ..

Jleb !

Belajar Rendah Hati

Bukan hanya kemampuan mengajar dan intelegensi tinggi yang dibutuhkan hingga seseorang dapat diterima sebagai bagian dari Pengajar Muda, namun juga kesanggupan rendah hati menerima kearifan lokal dan kecerdasan emosional yang cukup. Pada bagian ketiga, para Pengajar Muda menceritakan tentang itu semua ..

Satu yang paling mengena, Manusia Auksin, yang ditulis oleh Bagus Arya Wirapati (Pengajar Muda Bengkalis). Bapak guru yang satu ini menganalogikan cara kerja auksin, hormon pertumbuhan yang dimiliki tumbuhan, dengan proses ketangguhan seseorang. Jadi, auksin bekerja pada 2 kondisi yang dialami tumbuhan :

1. Mendapat cukup sinar matahari –> hormon auksin lebih sedikit, karena sifatnya memang dapat dipecah oleh sinar matahari, namun tumbuhan menjadi subur, karena bisa melakukan fotosintesis dengan baik.

2. Kekurangan sinar matahari –> hormon auksin bekerja maksimal, karena tidak dipecah oleh sinar matahari, hal tersebut membuat tumbuhan dapat tumbuh tinggi.

Begitu pun manusia, saat kondisi mudah dan menyenangkan (analogi dari “cukup sinar matahari”), harus tumbuh subur dan membawa guna untuk manusia lainnya. Sementara saat kondisi gelap, seolah tidak ada harapan, manusia harus tetap mampu menjadi lebih tinggi, lebih dewasa .. Tsaaahhh .. ;)

Ketulusan Itu Menular

Perjuangan *kalau tidak boleh disebut pengorbanan* para Pengajar Muda tentu tidak mudah. Meninggalkan kehidupan normal mereka di kota, menuju ke daerah, yang bahkan tidak populer namanya di pelajaran Geografi jaman sekolah dulu. Ketulusan, saya pikir, itulah modal besar para Pengajar Muda. Dan modal besar itu tidak bertepuk sebelah tangan, ketulusan mereka dibalas cinta yang jauh lebih besar dari anak-anak didik di lokasi pengajar ..

Seperti kisah yang disampaikan oleh Nila Pungky Ningtias (Pengajar Muda Tulang Bawang Barat), Saya dan Mereka Saling Jatuh Cinta, bahwa cinta diam-diamnya terbalas oleh murid-murid binaannya. It feels like heaven, katanya ..

Diawali dengan pengantar penuh motivasi oleh Anies Baswedan, pendiri sekaligus Ketua Gerakan Indonesia Mengajar, kemudian diakhiri dengan profil 51 Pengajar Muda Angkatan I, serta seluruh cerita yang terapit diantaranya, membuat buku ini utuh dan sukses menginspirasi. Percayalah ..

Sisipan terakhir, mengutip kata Anies Baswedan :

Semoga kisah-kisah yang mereka tuliskan ini bisa menginspirasi dan merangsang semua untuk melihat pendidikan sebagai Perjuangan Semesta : saling bantu, saling dukung. Mulai dengan mensyukuri perkembangan, memperbaiki kekurangan dan diikuti dengan kesiapan untuk turun tangan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik ..

Indonesia Mengajar, Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri

Penulis : 51 Pengajar Muda Angkatan I
Penerbit : Bentang
Halaman : 322 ++
Harga : Rp. 45.900 (15% off)

4 thoughts on “Indonesia Mengajar

  1. Saking makjleb-nya kutipan ini ” Dan, jika saat ini, besok atau esok dan esoknya lagi kau ingin mengeluh karena listrik padam, bersyukurlah karena itu hanya akan 1, 2, 3, 7, 8 atau 10 jam saja. Disini, listrik pun bahkan tidak ada .. ”, aku berniat kalo ada yg nulis status ngeluh tentang mati listrik di fb mau aku komen pake kutipan itu. Hehe..

  2. @ bee : Saya termasuk yang sering ngeluh listrik mati loh, Bee .. Abisnyaaa, PLN sini hobi banget matiin listrik seminggu sekali siiihhh .. *nangis*

  3. quote yg mati listrik itu satu jiwa meski beda obyeknya dgn quote-nya mbak ratna di blognya (yg sukses bikin aku nulis satu postingan gara2 itu, tulisna mba ratna itu ttg bukan ttg listrik tapi transportasi di semarang ;)

    tulisanku di sini: http://www.dansapar.com/2012/01/20/jika-aku-menjadi/

    dan kutipannya mba ratna:

    Keluhan saya tentang perjalanan panjang ini berawal terlalu dini, di bis antar kota yang membawa saya ke Teminal Terboyo Semarang. Bisnya luar biasa penuh Saudara-Saudara! Tidak kurang dari 25 kilometer saya berdiri mendekap tas kamera sambil merutuki diri sendiri,yang begitu tololnya mencari susah. Separuh merutuk setengah bersyukur tepatnya. Toh buat saya yang notabenenya seorang turis gembel ini hanya sesekali saja naik kendaraan umum di Indonesia. Hanya sesekali terhimpit jepitan ketiak basah di tengah-tengah bis kota yang gerah. Sementara saya percaya, 90% dari penumpang bis tersebut, menjalani hal yang sama setiap harinya, tanpa pilihan.

    ya, tanpa ada pilihan, sama kayak keberadaan listrik di majene.

    btw, jd mkn pgn beli bukunya, deh.

  4. @ sapar : Yups, pernah baca postingan Mba Ratna itu, Par. Lumayan mak jleb juga ya .. Hehehehe ..

    Udah, ayo angkut buku ini dari rak ke kasir yaaa .. ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>