Sang Pencinta. Sang Pendosa.

Belum selesai aku merabai hangat, belum tuntas pula aku menggapai nikmat, saat cahaya menyilaukan mendadak meleburkan harap. Terkesiap, meski paham tak lagi sempat, aku tetap berusaha menyembunyikan diri rapat-rapat. Sekilas aku menangkap tatap. Astaga, wanita itu ! Sumpah, ini gawat !

***

Mataku tak bisa lepas menatapnya, yang kini tengah sibuk berkutat dengan calon barang bawaannya yang menggunung. Koper super besar, plus tas jinjing ukuran sedang, telah terisi penuh, sementara beberapa pasang baju dan berlembar-lembar kerudung masih teronggok di luarnya. Aku tahu, kegiatan packing ini membuatnya frustasi, apalagi waktu berkemas tak banyak lagi.

Mbak, jangan ngeliatin doang dong ! Bantuin ! Nindi bingung nih .. “.

Nah, gadis di awal dua-puluhan itu sudah mulai sewot. Aku meringis, memangnya apa yang bisa aku perbuat ? Usulku untuk mengurangi pakaian-pakaian yang tak terlalu perlu, ditolaknya mentah-mentah. Namun melihatnya begitu kebingungan, aku jatuh tak tega. Aku rapikan ulang tumpukan pakaiannya di dalam koper, kemudian menyelipkan setumpuk kerudung warna-warni yang awalnya tak kebagian jatah tempat. Seraya berkata,

Baik-baik disana ya, Nin. Singapore itu ngga jauh, tapi tetep aja, bukan rumah kita sendiri. Hati-hati .. “.

Hening. Tidak ada balasan kata apapun darinya, kecuali beberapa detik kemudian aku merasa ada pelukan erat dari arah belakang.

Doakan Nindi ya, Mbak. Rasanya berat pergi dari sini, ninggalin Ayah, Ibu, adik-adik. Jauh dari Mbak pula .. “.

Aku berbalik, pelukannya terlepas. Aku menangkap matanya telah berkaca-kaca. Nafas kami terhela bersama, sebisa mungkin aku kembali tersenyum, meski sesak sangat terasa di dada,

Kamu kan ngga pergi lama, Nin, paling 2 tahun. Makanya kuliah yang rajin, selesaikan tesis sesegera mungkin dan pulang. Resiko punya otak encer, baru yudisium bulan lalu, sekarang udah harus berangkat kuliah lagi. Gratisan. Masa’ ditolak ?! “.

Nindi pun akhirnya tersenyum. Manis. Sedetik, punggung tangannya menyusut air mata yang hampir luluh,

Selama Nindi pergi, Nindi titipin semua yang Nindi punya disini sama Mbak ya. Cuma Mbak yang Nindi percaya .. “.

Mendengarnya, ekspresiku mendadak beku. Tanganku mengejang di udara, mengabaikan barang bawaan Nindi yang belum sepenuhnya sempurna. Jantungku berdegup beberapa kali lebih cepat ..

Ah, Nindi ..

Aku tidak mau dia melihat perubahan drastisku, maka buru-buru kembali aku dekap tubuh jelang dewasanya. Aku menangis, begitu pun dia. Namun aku yakin, kali ini alasan tangis kami berbeda. Aku tidak lagi menangisi kepergian sementaranya ke negeri tetangga. Aku sedang menangisi kata-katanya. Aku tengah meratapi kepercayaannya ..

***

Awalnya adalah senja itu ..

Setengah berlari, aku mencari tempat berteduh, karena langit mendadak bergemuruh, gerimis mulai luruh. Agak kerepotan, karena aku mencangklong tas di bahu, sekaligus menjinjing dua keresek hasil belanjaan di supermarket sebelah kantor. Menyesal, harusnya aku menunggu akhir pekan saja, baru menjalankan ritual belanja ..

Sesampai di halte, aku mengibas titik-titik air yang menempel di atas blazer-ku. Untung belum begitu kuyup. Saat itulah, perempuan muda, yang menurut taksiranku sedang berada di ujung masa remajanya, pun berteduh tepat di sebelahku. Ekspresinya tidak santai, terlihat sekali dia tidak nyaman dengan kehadiran hujan. Ya, karena gerimis telah berubah menjadi deras. Sangat deras, bahkan ..

Senja yang oranye, menjadi bernuansa misty, bertirai rinai ..

Semua baik-baik saja, kecuali langit yang seperti sedang meluapkan emosinya lewat air dan petir. Hingga anak mata kananku menangkap sorot lampu yang tak wajar, semakin mendekat dan menyilaukan. Ternyata asalnya dari sebuah armada taksi yang keluar dari jalur normal, nyusruk ke bibir halte dalam kecepatan tinggi. Entah, orang bilang refleks, ragaku merangsek memeluk perempuan muda di sebelahku. Sedetik, kemudian mendorongnya menjauh, hingga terjatuh bercampur genangan. Sementara aku seperti menjadi tumpuan moncong armada taksi yang baru terhenti setelah menabrakku dan salah satu tiang halte ..

Gelap !

Setelahnya, aku hanya tahu aku terbangun di Rumah Sakit, di sebuah kamar bernuansa lux, yang seketika membuatku berpikir, bagaimana melunasi tagihannya. Sialan benar orang yang memasukkanku ke ruang perawatan semewah itu ..

Alhamdulillah, Mbak sudah sadar .. “.

Suara merdu merasuki telingaku, aku menoleh ke arah kiri dengan gerakan sedikit menyentak. Dan aku meringis, kaki kananku sakit luar biasa ..

Jangan banyak gerak dulu ya, Mbak, kaki kanan Mbak patah. Tapi jangan khawatir, Dokter sudah melakukan tindakan terbaik untuk Mbak .. “, suara itu lagi.

Aku menyusun kesadaranku perlahan-lahan, pemilik suara itu adalah perempuan muda yang aku dorong menjauhi halte, hingga akhirnya taksi sableng itu hanya menabrakku. Nafas lega terhela, untung cuma patah kaki ..

Terima kasih .. “, kataku lirih, berbasa-basi.

Saya yang harus berterima kasih, Mbak menyelamatkan nyawa saya. Saya berhutang seluruh hidup saya pada Mbak .. “.

Oh ya, kenalkan, saya Nindi, Mbak .. “, sambungnya.

Sudah !

Sejak saat itulah, Nindi dan hampir seluruh kehidupannya menjadi bagian dari keseharianku. Aku yang perantau ini seperti menjadi memiliki keluarga kedua, keluarga Nindi. Ayahnya, Ibunya, adik-adiknya, teman-temannya, masalah perkuliahannya, rahasia-rahasianya. Semua. Nindi seperti tidak bisa lepas dariku, dia mengaku begitu nyaman mempercayakan segala macam hal padaku ..

***

Aku merasakan hangat tangan lelakiku menyibak riap anak rambut yang berjatuhan di samping kening. Kemudian suaranya aku dengar melirih, sembari nafasnya terhembus, terasa begitu nyata di kulit pipiku,

Kok murung terus sih akhir-akhir ini ? “.

Aku menoleh, lekat kutatap wajahnya yang selalu mempesona,

Kepikiran Nindi .. “, jawabku pendek.

Ada hela berat yang aku tangkap, dia menjauh, berbaring pada posisinya,

Nindi lagi ? Sesekali lepaskan dia dari pikirmu, Sayang .. “, protesnya.

Aku meliriknya. Ekspresinya lucu saat ngambek begitu. Meski cahaya remang yang mengisi ruangan temaram ini, lekuk menawan wajahnya masih tertangkap dengan baik di mataku. Siluetnya adalah yang paling sempurna yang pernah ada. Oh, Tuhan, sungguh aku mencintanya ..

Cemburu ? “.

Lelakiku itu sontak mendekapku, aku terkesiap. Ujung hidungnya hanya dua senti dari ujung hidungku,

Bagaimana mungkin aku tidak cemburu ? Sepertinya sepanjang harimu hanya kau isi dengan memikirkan Nindi, sementara di jauh sana Nindi baik-baik saja. Coba sesekali pikirkan aku .. “, desisnya.

Aku terbahak singkat, sambil mencubit hidungnya gemas,

Sayang, kamu itu penghuni kepalaku. Ngga usah kamu suruh aku mikirin kamu, otomatis ituuu .. “.

Gombal ! “, balasnya sengit.

Aku sudah tak punya kata-kata. Aku sangat hapal, dalam kondisi seperti itu, lelakiku hanya bisa ditaklukkan dengan satu hal : ciuman ..

Ini buktinya .. “.

Kecup sederhanaku pun menghangat, kemudian memanas sejalan dengan balasnya. Malam semakin melumat kami dalam kebersamaan, hingga bulan dan bintang malu-malu memperhatikan dari balik tirai kelam. Sebentar lagi, tidak ada dua manusia, karena kami akan melebur menjadi satu ..

Namun ..

Belum selesai aku merabai hangat, belum tuntas pula aku menggapai nikmat, saat cahaya menyilaukan mendadak meleburkan harap. Terkesiap, meski paham tak lagi sempat, aku tetap berusaha menyembunyikan diri rapat-rapat. Sekilas aku menangkap tatap. Astaga, wanita itu ! Sumpah, ini gawat !

***

Aku atau kamu sendiri yang akan mengatakan tentang pengkhianatan ini pada Nindi, Laras ? “, kata-kata datar wanita itu terhunus seperti belati di ulu hati.

Nindi harus segera tahu kabar ini. Perempuan yang telah dia anggap kakaknya sendiri, ternyata sundal ! Perempuan yang amat sangat dia percayai, ternyata merangkap sebagai selingkuhan Ayahnya ! “, lanjutnya lagi, bertubi.

Meski Nindi berhutang nyawa padamu, aku tidak yakin dia akan memaafkanmu ketika tahu Ayahnya berkali-kali bercinta denganmu .. “.

Aku jatuh, memeluk kedua kaki wanita itu. Dia, perempuan yang dari rahimnya lah Nindi lahir. Sementara lelakiku terduduk beku di sudut ruang. Dia, pria yang dengan takzim disebut ‘Ayah’ oleh Nindi. Tidak ada apa-apa lagi di kepalaku, selain Nindi ..

Saya bersalah, Tante. Silahkan hukum saya dengan cara apapun yang Tante mau. Tapi tolong, biar saya yang mengatakan semua pada Nindi .. “, rintihku pilu. Sekali aku menoleh ke arah lelakiku, tatapnya sama : lara. Aku layangkan pesan tanpa kata, bahwa sungguh aku mencintanya. Sungguh ..

Hukuman dariku hanya satu : tinggalkan kami ! Tentunya setelah kamu berterus terang pada Nindi tentang semua pengkhianatan ini .. “, jawab wanita setengah baya itu sadis.

Kepalaku mendadak nyeri. Meninggalkan lelakiku, terbayang bagaimana beratnya. Apalagi ditambah harus meninggalkan Nindi, aku tidak yakin bisa. Namun aku harus melakukannya, sebagai hukuman bagi seorang pendosa ..

Akan saya lakukan, Tante .. “.

Aku pun pergi, tersaruk-saruk di bawah malam yang sepi. Pipiku pedih, entah berapa puluh tamparan dilayangkan disana tadi. Beberapa lebam terpapar di lengan dan pelipis, setelah beradu dengan tembok ruangan. Hatiku apalagi, pedih dan lebam. Aku kehilangan banyak hal, tanpa ada kata selamat tinggal. Rasanya, menangis pun telah tidak ada gunanya ..

***

Mbak, tumben telepon. Mahal lho .. “, suara Nindi terdengar agak terputus-putus, namun tetap nyaring dan berenergi.

Iya, ngga lama kok, Nin. Ada yang sangat penting .. “, aku berusaha menstabilkan suara, meski tenggorokanku terasa amat sangat miris menahan tangis.

Ada apa, Mbak ? “, nada Nindi mendadak datar dan lirih. Aku menangkap kekhawatiran disana,

Mbak mohon ya, Nin, terima kabar ini dengan bijaksana, jangan emosi .. “, aku menyelinginya dengan nafas panjang, sekedar untuk menenangkan diriku sendiri,

Ada perempuan yang membuat Ayah Nindi sempat lupa, hingga akhirnya berkhianat pada Ibu, Nindi dan adik-adik .. “.

Ayah ?! Ngga mungkinnn .. “, ada jerit tertahan yang aku dengar dari seberang.

Nindi, dengerin Mbak ! Mbak janji sama Nindi, akan membuat perempuan itu pergi. Selama-lamanya. Dia tidak pernah akan kembali pada Ayah Nindi .. “, kataku datar. Tangisku nyaris luruh, membentuk permukaan kaca di depan bola mata ..

Isak Nindi pun terdengar samar,

Siapa perempuan itu, Mbak ? Nindi ngga akan memaafkannya .. “.

Aku tersedak. Benar kata Ibunya, Nindi tidak akan memaafkanku ..

Kamu akan tahu nanti, Nin. Dan ketika kamu tahu, kamu sangat boleh tidak memaafkannya, tapi Mbak mohon, maafkan Ayah Nindi ya. Dia hanya lupa .. “.

Saat sambungan telepon berakhir, aku menangis sejadi-jadinya. Ada lubang yang berdarah-darah di sekujur jiwaku. Kehilangan hak untuk mencintai, sekaligus menghilangkan kesempatan untuk dipercayai. Sang pencinta, sekaligus Sang pendosa. Inilah aku ..

Sesuai janji pada Nindi, aku akan menyingkirkan perempuan yang membuat Ayahnya berkhianat. Cutter telah tergenggam mantap di tangan kanan, kemudian sekali goresan di pergelangan tangan kiri. Darah menetes deras. Aku sudah tidak merasakan sakit, kecuali jauh di dalam dadaku yang seperti tercabik-cabik. Perlahan-lahan namun pasti, pandanganku menggelap. Sebentar lagi, perempuan pengkhianat itu akan lenyap ..

***

Nindi, perempuan itu aku ..
Aku persilahkan untuk tetap tidak memaafkanku ..
Namun, seperti kataku, maafkan Ayahmu, Nin. Dia lelaki yang sangat baik. Dia hanya sempat lupa
..

Nindi membaca selembar pesan terakhir itu dalam tangis berkepanjangan. Di depan sebujur makam yang tanah merahnya telah mengering dan mengeras. Di hadapan sebentuk batu nisan bertuliskan nama : Putri Laras ..

***

6 thoughts on “Sang Pencinta. Sang Pendosa.

  1. tragis bgt endingnya… T_T
    :(
    itu bunuh dirinya kok pake cutter? mbok ya pake yang laen.. -__-”

    btw, goodjob, sistaaaa :D

  2. Dramatis skali dek,, antara laras, nindi, dan mamapapanya, mereka sdg mmainkan peran ‘sang sutradara’. Msg2 ga bs protes sm ‘yg bikin crita’. *haruuuuu..
    Hehe, no silent reader anymore kan dek, hihi

  3. @ mba nuning : Aaakkk .. Terharu, akhirnya Mba Nuning nongol di halaman rumahku. Peluk aaahhh .. ;)

    Iya, Mba, Sang Sutradaranya sempet ikut terhanyut, mewek sendiri pas menciptakan mereka. Lohhh, aneh tooohhh ..

  4. si Laras menabrakkan diri ke mobil yang lewat, eh ternyata yg nyetir itu bapaknya si Nindi..
    *nah loooo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>