Masjid Laweyan, Saksi Bisu Akulturasi Budaya yang Sempurna ..

Saya termasuk orang yang percaya bahwa setiap perjalanan pasti punya kisah dan kejutan masing-masing. Nah, Masjid Laweyan merupakan kejutan istimewa yang saya temui di simple weekend gateaway ke Solo, awal Mei 2013 lalu. Memang benar, blusukan ke Laweyan adalah tujuan utama saya merapat ke Solo Raya. Bukan untuk sekedar berbelanja batik, tentunya, namun untuk memuaskan keingintahuan saya pada sejarah agung yang tersimpan di balik lorong-lorong sempit di Laweyan. Awalnya tidak ada ekspektasi berlebih pada penelusuran yang saya dan teman-teman lakukan, sudah puas dengan kunjungan ke rumah Bapak Harun Muryadi, satu-satunya rumah di Laweyan yang masih memiliki bunker kuno dan ke rumah Bapak Haryono, yang tersohor sebagai nDalem Djimatan ..

Saat itu, adzan Ashar sudah lama berlalu, sementara saya, Mba Yusmei, Indra dan Almira belum menunaikan sholat. Tidak jauh dari tempat parkir mobil, terlihat bangunan berwarna dominan hijau. Masjid. Langsung saja kami meluncur kesana. Siapa sangka, itulah Masjid Laweyan, masjid pertama yang dibangun di Kota Solo !

IMG_1076

Masjid Laweyan terletak di Dusun Pajang RT 04 RW 04, Laweyan, Solo, tidak jauh dari pertigaan Jalan Tiga Negeri, menuju lokasi bunker kuno dan nDalem Djimatan ..

Setelah sholat, kami berniat mencari informasi tentang bangunan bersejarah ini. Alhamdulillah, kami bertemu dengan Pak Yanto, penjaga masjid, sekaligus juru kunci makam yang terbentang luas di belakang masjid. Dari Beliau lah, kami mendapat banyak cerita dan petuah ..

IMG_1082

Masjid Laweyan dibangun pada tahun 1546, saat Sultan Hadiwijaya berkuasa di Kerajaan Pajang. Sebagai perbandingan, Kota Solo terbentuk pada tahun 1745, sementara Masjid Agung Solo dibangun pada 1763. Jauh lebih tua, bukan ?

IMG_1071

Siapa sangka, masjid ini mengawali kisahnya sebagai pura, tempat ibadah Agama Hindu. Konon, pemilik pura tersebut bernama Ki Beluk, seorang pemimpin umat Hindu. Disinilah Ki Ageng Henis, yang notabene merupakan kakek dari Susuhunan Paku Buwono II, berperan besar, dengan menggunakan hubungan persahabatan dan keluwesan berdakwah, Ki Beluk pun memeluk Agama Islam dan mengubah peruntukan pura menjadi masjid. Arsitektur dan desain interior masjid merupakan bukti nyata bahwa bangunan ini merupakan bekas pura. Pengaruh budaya Hindu dan Jawa melekat sangat erat di Masjid Laweyan ini ..

IMG_1073

Pengaruh Hindu dapat dijumpai pada letak masjid yang lebih tinggi dari pada bangunan lain di sekitarnya dan ornamen batu ukir yang menghiasi kompleks makam. Sementara pengaruh Jawa dapat dijumpai pada pembagian tata ruang masjid dan penggunaan atap bersusun ..

Beranjak ke belakang bangunan utama Masjid Laweyan ..

IMG_1077

Disana terdapat kompleks makam kehormatan Kerajaan Pajang, Kartasura dan Kasunanan Surakarta. Areal makam tersebut tidak terlalu luas, namun cukup banyak tokoh yang disemayamkan disana, terlihat dari padatnya batu nisan yang ada. Menurut Pak Yanto, beberapa tokoh yang dimakamkan di belakang Masjid Laweyan ini adalah :

1. Ki Ageng Henis

Beliau adalah tokoh yang dipercaya menurunkan raja-raja di Keraton Kasunanan Surakarta dan Mataram. Penasehat spiritual Kerajaan Pajang ini merupakan keturunan Raja Majapahit dari silsilah Raja Brawijaya – Pangeran Lembu Peteng – Ki Ageng Getas Pandawa – Ki Ageng Selo ..

2. Susuhunan Paku Buwono II

Beliau adalah cucu dari Ki Ageng Henis dan telah berjasa memindahkan Keraton Kartasura ke Keraton Kasunanan Surakarta ..

3. Permaisuri Paku Buwono V

4. Pangeran Widjil I Kadilangu

Beliau adalah tokoh Pujangga Dalem Paku Buwono II - Paku Buwono III, yang ikut berjasa dalam pemindahan Keraton Kartasura ke Keraton Kasunanan Surakarta ..

Selain keempat nama yang saya sebutkan di atas, masih banyak lagi tokoh penting yang dimakamkan di kompleks makam di belakang Masjid Laweyan ini ..

Kemudian, di sudut kiri areal makam terdapat sebuah pohon besar nan merimbun. Pak Yanto mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon langka bernama Nagasari, yang usianya sudah lebih dari 500 tahun. Pohon tersebut merupakan lambang naga paling unggul yang senantiasa menjaga areal makam. Konon, Nagasari adalah pemberian dari Kerajaan Hastina di India, yang oleh Kerajaan Pajang ditukar dengan aneka keris-keris Jawa. Wallahu’alam ..

Tak terasa, senja semakin menua. Rupanya kami terlalu asyik mendengar aneka kisah dan petuah dari Pak Yanto. Lepas pukul 5 sore, saya dan teman-teman pamit pulang, kasihan Krisna yang terlalu lama menunggu di parkiran *sstt, kami sempat lupa meninggalkan Krisna sendirian, hahahaha ..*. Satu cerita tentang Masjid Laweyan tersimpan di ingatan, pun teriring doa bagi para pendakwah Islam yang pernah dan sedang berperan memakmurkan masjid ini,

Semoga Allah senantiasa memuliakan mereka semua .. “.

Amieeennn .. ;)

***

4 thoughts on “Masjid Laweyan, Saksi Bisu Akulturasi Budaya yang Sempurna ..

  1. kejutan menyenangkan ya ..
    betul tiap perjalanan pasti ada kejutan tak disangka2
    sama sepertiku yang juga dapat kejutan ketemu masjid tertua di Sumatera Barat, masjid Tuo Kayu Jao

    jadi pengen cepat2 ke Solo lagi setelah ikuti catatanmu ini, te

  2. @ isna : Kelenteng Cheng Ho means Kelenteng Sam Po Kong ? Setau saya, Kelenteng Sam Po Kong bukan masjid, hanya petilasan sholatnya Laksamana Cheng Ho. Sayangnya fakta bahwa Cheng Ho adalah seorang muslim disembunyikan ..

    Masjid Cheng Ho adanya di Surabaya, bukan di Semarang .. ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>