[Fiksi] Pengadilan Pinggir Jalanan

Semilir angin senja mempermainkan ujung kerudungku. Tidak banyak awan2 yang menghalangi angkasa raya. Biru, dengan sedikit semburat jingga, yang berasal dari pesona Sang Surya. Aku duduk di sebilah bangku yang terpasang permanen di pinggir jalanan Jakarta, bersama Dia. Dia temanku, aku tidak begitu dekat dengannya, kami bisa bersama sore ini setelah kebetulan bertemu di halaman kantorku tadi.

” Ya, masih betah melajang aja kamu .. “, tiba2 perempuan berpostur mungil itu menghentikan keheningan di antara kami. Sayangnya, dengan pernyataan yang sekian tahun terakhir mengangguku.

Aku tidak menjawab dengan kata, tapi hanya senyum tanggung. Aku berharap Dia paham, aku tidak nyaman ditanya2 hal semacam itu.

Tapi, sesuai perkiraanku, teman lamaku ini tidak puas hanya ku tanggapi dengan senyum,

” Yah, cuma senyum .. Kenapa sih, Ya ? Kamu kan cantik, pinter pula. Aku masih inget tuh, kamu kan dulu termasuk sepuluh besar pas yudisium di fakultas kita .. Dengan semua kelebihan itu, masa iya sih ngga ada yang mau sama kamu ? Temen2 udah habis, udah pada nikah lho .. “.

Aku mulai jengah. Bombardir pertanyaan, ups, pemojokan pada seorang single dimulai !

” Aku ngga harus juga udah nikah karena temen2 ku udah nikah kan, Di ? “, aku menjawabnya dengan balik bertanya.

” Ya emang ngga sih, jalan orang sendiri2, tapi aku tetep penasaran, kenapaaa kamu belum nikah juga ? Padahal dulu kami kira kamu bakalan termasuk dalam jajaran cewek2 kampus yang paling duluan laku .. “, lanjut Dia.

Okay, aku tertohok dengan pernyataan Dia. Secara tidak langsung, dia menyiratkan bahwa kondisiku saat ini adalah kondisi seorang perempuan yang belum, atau bahkan tidak laku. Aku mencoba bertahan, aku ingin tau, sejauh mana Dia akan mengobok2 privasiku.

” Tuh kamu udah bilang, jalan orang sendiri2. Ya berarti jalanku memang begini, belum ketemu jodoh .. “, jawabku malas2an. Sungguh, aku tidak bisa menyembunyikan kejengahanku. Aku berharap Dia bisa membacanya, sayangnya, aku hanya bisa berharap.

” Belum ketemu jodoh apa terlalu milih2 jadi jodohnya mental melulu ? “, Dia bertanya, retoris, kemudian tertawa geli.

Apa yang lucu hingga Dia tertawa ? Entah ..

” Salah kah, Di, kalo aku memilih orang yang akan jadi pendamping seumur hidupku ? “, aku mulai “drama”. Hatiku sakit, mati2an aku menahan tekanan di dadaku agar tidak berubah menjadi buliran2 air mata.

” Milih, ya milih, Ya, tapi kalo sampe nolak Hari, Awan atau Geri, kok ya kayanya berlebihan. Aku denger, mereka bertiga pernah melamar mu kan, ngga lama setelah lulus dulu ? Apa kurangnya mereka, Ya ? Beeuu, yang antri pengin jadi istri mereka kan banyak tuh .. “, kata Dia lagi.

Ya Alloh, kenapa aku harus Kau pertemukan dengan teman lama ku yang satu ini ? Yang tiba2 muncul dan mewawancaraiku tentang keadaanku yang belum menikah sampai sedalam ini .. Sudah terlalu banyak pertanyaan dan tidak kalah banyak jawaban yang aku berikan pada orang2 semacam Dia di keseharianku. Di kantor, di kelas magister ku, di rumah .. Ahhh ..

” Di, seharusnya aku ngga perlu menjelaskan terlalu detail ke kamu, tapi saat ini, aku rasa perlu, untuk menjawab kepenasaranmu. Kenapa aku menolak Hari ? Bukan aku yang menolak, tapi aku yang ditolak keluarganya, karena mereka Jawa dan aku Sunda. Awan ? Ya, aku yang menolaknya, karena dia punya diabetes, aku pun punya. Aku ngga mau anak2 kami yang jadi korban keegoisan kami, kalo mereka lahir, mereka pasti positif diabetes. Sedangkan Geri, dia mengajukan syarat untuk calon istrinya, agar setelah menikah tidak usah bekerja. Aku tidak bisa memenuhinya, proses kita terhenti. Itu alasan2nya, Di .. Cukup jelas ?! “, begitu emosional aku merangkai penjelasan sepanjang itu. Dia melongo. Semoga teman lamaku itu paham, aku menginginkan ini berakhir.

” Terus, yang lainnya ? Masa iya, ngga ada yang lamar kamu lagi, Ya ? “.

Astaga !! Keterlaluan sekali teman yang tidak pernah sekalipun dekat denganku ini .. Apa haknya terus menghakimi aku, terus menanya2i aku, terus merongrongku ?

” Sudahlah, Di, aku duluan .. “.

Tanpa babibu dan pamitan formal, aku bergegas meninggalkan Dia di pinggi jalanan Jakarta dengan senja yang mulai menua. Aku paham, tidak sopan, tapi biarlah, aku sudah tidak tahan.

Suara Dia terdengar dari arah belakangku,

” Sayaaa, mau kemanaaa ?? “.

Aku berbalik sebentar, ke arahnya dan balik berteriak, tak kalah keras,

” CARI SUAMI !! PUAS ?! “

3 thoughts on “[Fiksi] Pengadilan Pinggir Jalanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>